Nyepi, Silence????

Senin, 15 Maret 2010

Hari Nyepi Sedunia : “World Day of Silence”.
Senin, 08-03-2010

Sediakalanya Hari Nyepi biasanya berlangsung rutin sebagai suatu tradisi di Bali dengan tanpa publikasi ramai yang berlebihan berhubung esensi pelaksanaannya yang memang berorientasi lebih menekankan pendalaman dalam hal penghayatan batiniah agar setiap ummat Hindu untuk melaksanakan aksi semalam suntuk tanpa aktivitas keduniaan sehari-hari dengan cirian khas tanpa penyalaan api dalam rangka menyambut kedatangan fajar Tahun Baru Saka. Khalayak khususnya kalangan wisatawan yang akan berwisata berkunjung ke pulau Bali yang waktunya bertepatan dengan tibanya Hari Nyepi selalu diwanti-wanti agar memahami akan suasana kehidupan lokal yang tengah menyepikan diri dari segala aktivitas sehari-hari dan bepergian keluar rumah dengan cirian laku berpantang menyalakan api ---atau “mati geni”---
Aksi menyepi yang berlangsung selama semalam suntuk ini berjalan mulai dari pagi hari dan memasuki malam hari maka penyalaan lampu-lampu yang terbatas adanya di setiap hotel tempat inap. Dermaga penyeberangan ferry serta bandara di segenap p. Bali pun diumumkan ditutup untuk sehari penuh.

Namun suatu situasi yang akan berbeda kini berkembang dalam menyongsong Hari Raya Nyepi yang tepatnya bersamaan dengan Tahun Baru Saka 1932 yang jatuh pada tgl 16 Maret 2010 yad. Kalangan pecinta lingkungan hidup dari Walhi : Wahana Lingkungan Hidup Indonesia dan PPLH : Pusat Penelitian Lingkungan Hidup Prop. Bali pada akhir pekan yl berinisiatif untuk menebarkan semangat Hari Raya Nyepi dari tradisi Bali untuk diadopsi menjadi “World Day of Silence” dalam lingkup global. Pihak Walhi dan PPLH bersama dengan Bali Organic Association beraksi menyebarkan petisi “World Day of Silence” dengan cara mengumpulkan tanda tangan dari segenap khalayak dan wisatawan dalam negeri dan mancanegara ---target sejumlah 10.000 tandatangan--- di lokasi turis teramai di Bali yakni di Plaza Monumen Peringatan Bom Bali di Kuta dan seputar Legian.
Aksi yang berlatarbelakang tradisi Hari Nyepi ini dibarengi dengan semangat untuk menghadapi situasi “Global Warming” hingga tindakan yang dilakukan tidak hanya sebatas berpantang menyalakan api dan lampu, namun juga memperluasnya dengan aksi tidak menyalakan ponsel, aneka perangkat rumah tangga berdaya listrik (AC, televisi, radio), komputer, serta tidak pula menghidupkan kendaraan (sepeda motor dan mobil) yang dilangsungkan selama selang waktu jam 10 pagi hingga jam 2 siang pada tgl 21 Maret 2010, yang memang masih terhitung berdekatan dengan momen Hari Nyepi tgl 16 Maret. Pemilihan tgl 21 Maret untuk event ini dikaitkan bertepatan dengan saat fenomena equinox yakni matahari yang tengah berposisi tepat pada posisi tegak lurus di atas garis khatulistiwa.

Pada kesempatan pertama kalinya pelaksanaan “Hari Nyepi Sedunia” ini direncanakan akan dicanangkan tgl 21 Maret mendatang dari plaza monumen Bajra Sandi di Denpasar Bali. Para aktivis lingkungan hidup ini dari Bali selanjutnya akan memperluas aksi “World Day of Silence” untuk menghadapi situasi ancaman “Global Warming” ke seluruh penjuru dunia menjadi aksi global dengan cara pengumpulan tandatangan hingga sejumlah 10 juta orang yang nantinya akan diajukan ke hadapan institusi Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk dapat resmi menjadi aksi sejuta ummat dalam tatanan global.
Salah satu sosok aktivis kampanye dari PPLH Bali yakni Herni Frilia Hastuti bahkan berujar meyakinkan betapa aktivitas Hari Nyepi yang berlangsung selama 24 jam mulai dari pagi hari jam 06:00 pada setiap memasuki hari pertama Tahun Baru Saka terbukti dapat menghindarkan terjadinya cemaran gas emisi gas rumah kaca hingga senilai 20 juta ton.


Sumber: Up-dates situs JKTglobe dll. / Rizal AK.

0 komentar:

Posting Komentar